Minggu, 04 Mei 2014

PIJAT ENDOPRIN


                                                                          Pijat Endoprin
a.    Pengertian
        Endorphin massage merupakan suatu metode sentuhan ringan yang dikembangkan pertama kali oleh Constance Palinsky yang digunakan untuk mengelola rasa sakit. Teknik ini bisa dipakai untuk mengurangi rasa tidak nyaman selama proses persalinan dan meningkatkan relaksasi dengan memicu perasaan nyaman melalui permukaan kulit. Teknik sentuhan ringan juga menormalkan denyut jantung dan tekanan darah. Sentuhan ringan ini mencakup pemijatan yang sangat ringan yang bisa membuat bulu –bulu halus pada permukaan kulit berdiri. Riset membuktikan bahwa teknik ini meningkatkan pelepasan endorphin dan oksitosin (Aprilia, 2011:59).
        Endorphine berasar dari kata Endogenous + Morphine yang merupakan Molekul protein yang diproduksi sel-sel dari sistem syaraf dan beberapa bagian tubuh yang berguna untuk bekerja bersama reseptor sedativa untuk mengurangi rasa sakit. Reseptor analgesik ini diproduksi di spinal cord dan ujung syaraf Endorphin merupakan polipeptida-polipeptida yang terdiri dari 30 unit asam amino. Opioid-opioid hormon-hormon penghilang stress seperti kortikotrofin, kortisol dan katekolamin (adrenalin-Noradrenaline) yang dihasilkan tubuh untuk mengurangi stress dan menghilangkan rasa nyeri.
b.    Waktu Pijat Endoprin
        Pijatan ini boleh dilakukan pada saat umur kehamilan lebih dari 36 minggu, dengan alasan, karena hormon oksitosin yang keluar bisa merangsang timbulnya kontraksi, boleh dilakukan pula saat persalinan dan nifas. Teknik endorphin massage ini juga sangat mendukung teknik relaksasi yang dalam dan membantu membentuk ikatan antara ibu, suami dan janin dalam kandungannya (Aprilia, 2011:59).
c.    Manfaat Pijat Endoprin
        Tubuh menghasilkan sedikitnya 20 endorphin yang berbeda manfaat dan kegunaannya (masih diteliti). Beta-endorphin muncul sebagai endorfin yang kelihatannya untuk memiliki pengaruh yang paling di otak dan tubuh selama latihan; itu adalah satu jenis hormon peptida yang dibentuk sebagian besar oleh Tyrosine, satu asam amino.
Struktur yang molekular adalah sangat serupa dengan morfin hanya dengan kekayaan kimia yang berbeda. Dan berikut kegunaan dari endorphin:
1)        Mengendalikan rasa saikit yang persisten/ menetap
2)        Mengendalikan potensi kecanduan akan chocolate
3)        Mengendalikan perasaan frustrasi dan stress
4)        Mengatur produksi dari hormon pertumbuhan dan sex
5)        Mengurangi gejala-gejala akibat gangguan makan
        Karena endorphin adalah hormon yang alami yang diproduksi oleh tubuh manusia, maka endorphin adalah penghilang rasa sakit yang terbaik. endorphins dapat diproduksi secara alami dengan cara melakukan aktivitas seperti meditasi, melakukan pernafasan dalam, makan makanan yang pedas, atau melalui acupuncture treatments atau chiropractic.Walaupun perlu riset yang lebih lanjut namun endorphins dipercayai memproduksi empat kunci bagi tubuh dan pikiran: yaitu meningkatkan sistem kekebalan tubuh/ the immune system, mengurangi rasa sakit, mengurangi stress, dan memperlambat proses penuaan. Para ilmuwan juga menemukan bahwa beta-endorphins dapat mengaktifkan NK (Natural Killer) cells pada tubuh manusia dan mendorong sistem kekebalan tubuh untuk melawan sel-sel kanker.
d.   Pijat Endoprin dalam dunia kebidanan
        Dalam dunia kebidanan, Constance Palinsky mengembangkan Endorphin Massage sebagai teknik sentuhan ringan selama melakukan riset tentang mengelola rasa sakit dan relaksasi. Teknik ini bisa dipakai untuk mengurangi perasaan tidak nyaman  atau nyeri selama proses persalinan dan meningkatkan relaksasi dengan memicu perasaan nyaman melalui permukaan kulit. Tehnik sentuhan ringan juga dapat menormalkan denyut  jantung dan tekanan darah. Sentuhan ringan mencakup pemijitan sangat ringan yang bisa membuat bulu-bulu halus berdiri. Riset  membuktikan bahwa tehnik ini meningkatkan pelepasan oksitosin, sebuah hormone yang memfasilitasi persalinan.
e.    Cara melakukan Pijat Endoprin
1)        Anjurkan ibu untuk mengambil posisi senyaman mungkin, bisa dilakukan dengan duduk, atau berbaging miring. Bidan atau suami untuk duduk dengan nyaman di samping atau dibelakang ibu.
2)        Anjurkan ibu untuk bernafas dalam, sambil memejamkan mata dengan lembut untuk beberapa saat. Setelah itu bidan atau suami mulai mengelus permukaan  luar lengan ibu, mulai dari tangan sampai lengan bawah. Belaian ini sangat lembut dan dilakukan dengan menggunakan  jari-jemari atau  hanya ujung-ujung jari.
3)        Setelah kira-kira lima menit, bidan atau suami ibu untuk berpindah ke lengan yang lain. Walaupun sentuhan ringan ini dilakukan di kedua lengan ibu, ibu akan merasakan bahwa dampaknya sangat menenangkan di sekujur tubuh.Tehnik ini juga bias diterapkan dibagian tubuh lain,termasuk telapak tangan,leher,dan bahu ,serta paha
4)        Teknik sentuhan ringan ini sangat efektif jika dilakukan di bagian punggung. Caranya, ibu dianjurkan untuk berbaring miring, atau duduk. Dimulai dari leher,  memijat ringan membentuk huruf V kearah luar menuju sisi tulang rusuk. Pijatan –pijatan ini terus turun kebawah, kebelakang. Ibu di anjurkan untuk relaks dan merasakan sensasinya.
5)        Saat melakukan sentuhan ringan tersebut anjurkan untuk menyentuh perut ibu dari belakang sembari mengucapkan niat atau affirmasi positif.
6)        Bidan atau suami dapat memperkuat efek menegangkan dengan mengucapkan kata-kata yang menentramkan saat dia memijat  dengan lembut. Misalnya, dia bisa mengatakan “Persalinan ini akan berjalan dengan nyaman dan lancar”. ( Aprilia, 2011:60).

TANDA BAHAYA PADA BAYI BARU LAHIR


TANDA BAHAYA PADA BAYI BARU LAHIR

A.    Diare
1.      Definisi
Adalah BAB yang tidak normal/feces encer yang frekuensinya lebih dari biasanya(>4x pada neonatus dan >3x bayi 1 bln).
Diare adalah buang air besar dengan frekuensi 3x atau lebih per hari, disertai perubahan tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang terjadi pada bayi dan anak yang sebelumnya tampak sehat (A.H. Markum, 1999)
2.      Penyebab
Penyebab diare:
a.       Virus
b.      Bakteri seperti salmonela, shiggela, e.coli, campylobacter
c.       Infeksi parasit
d.      Alergi makanan/ susu,
e.       Efek samping obat,
f.       Keracunan
g.      Menurunnya daya tahan tubuh (malnutrisis, BBLR, immunosupresi, terapi antibiotik)
3.      Jenis diare
a.       Diare akut, feses sering dan cair, tanpa darah, berakhir <7 hari, muntah, demam
b.      Disentri, terdapat darah dalam feses, sedikit-sedikit/ sering, sakit perut, sakit pada saat BAB, anoreksia, kehilangan BB, kerusakan mukosa usus
c.       Diare persisten, berakhir selama 14 hari/ lebih, dapat dimulai dari diare akut ataupun disentri
4.      Tanda dan gejala
a.       Gejala sering dimulai dengan anak yang tampak malas minum, kurang sehat diikuti muntah dan diare
b.      Feses mula-mula berwarna kuning dan encer, kemudian berubah menjadi hijau, berlendir dan berair serta frekuensinya bertambah sering
c.       Cengeng, gelisah, lemah, mual, muntah, anoreksia
d.      Terdapat tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelek (elastisitas kulit menurun), ubun-ubun dan mata cekung, membran mukosa kering.
e.       Pucat anus dan sekitarnya lecet
f.       Pengeluaran urin berkurang/ tidak ada
g.      Pada malabsorbsi lemak biasanya feses berwarna pucat, banyak dan berbau busuk dan terdapat butiran lemak
h.      Pada intoleransi disakarida feses berbau asam, eksplosif dan berbusa
i.        Pada alergi susu sapi feses lunak, encer, berlendir, dan kadang-kadang berdarah
5.      Komplikasi
a.       Kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan (dehidrasi, kejang dan demam)
b.      Syok hipovolemik yang dapat memicu kematian
c.       Penurunan berat badan dan malnutrisi
d.      Hipokalemi (rendahnya kadar kalium dalam darah)
e.       Hipokalsemi (rendahnya kadar kalsium dalam darah)
f.       Hipotermia (keadaan suhu badan yang ekstrim rendah)
g.      Asidosis (keadaan patologik akibat penimbunan asam atau kehilangan alkali dalam tubuh)
6.      Tahapan dehidrasi menurut Ashwill dan Droske (1997)
a.       Dehidrasi ringan, BB menurun 3-5% dengan volume cairan yang hilang < 50 ml/kgBB
b.      Dehidrasi sedang, BB menurun 6-9% dengan volume cairan yang hilang 50-90% ml/kgBB
c.       Dehidrasi berat, BB menurun lebih dari 10% dengan volume cairan yang hilang ≥100 ml/kgBB

7.      Penatalaksanaan
a.       Bila diare tanpa dehidrasi, tanpa demam, nafsu makan baik cukup dengan memberikan ASI; Memberikan cairan dan mengatur keseimbangan elektrolit; terapi rehidrasi
b.      Bila diare disertai muntah berikan oralit setiap muntah;
c.       Kolaborasi untuk terapi pemberian antibiotik sesuai dengan kuman penyebabnya
d.      Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi untuk mencegah penularan
e.       Memantau biakan feses pada bayi yang mendapat terapi antibiotik
f.       Tidak dianjurkan untuk memberikan anti diare dan obat-obatan pengental feses
g.      Bila diare berat tiap jam disertai dehidrasi segera rujuk.

B.     Obstipasi
1.      Definisi
Adalah tidak BAB selama 5hari/ lebih dikarenakan otot pada usus besar mengencang. Obstipasi merupakan salah satu gangguan pencernaan yang cukup banyak dijumpai pada neonatus, bayi, dan anak. Obstipasi diartikan sebagai suatu keadaan dimana terjadinya penurunan frekuensi atau berkurangnya defekasi. Pada sebagian besar kasus, biasanya bayi mengalami abdominal distension dan gagal mengeluarkan meconium dalam beberapa jam pertama kehidupan. Gagal BAB pada periode neonatal harus selalu dipertimbangkan sebagai suatu yang abnormal sampai terbukti bahwa hal tersebut merupakan kasus lain. Sekitar 94% bayi normal, secara spontan mengeluarkan meconeum dalam 24 jam setelah lahir dan 99,8 % BAB dalam 48 jam pertama.
Ada beberapa variasi pada kebiasaan buang air besar yang normal. Biasanya buang air besar 2-3 kali sehari tergantung jenis susu yang dikonsumsi akan tetapi masih mungkin normal bila buang air besar 36-48 jam sekali asal konsistensi tinja normal.
2.      Patofisiologi Obstipasi
Kolon mempunyai fungsi menerima bahan buangan dari ileum, kemudian mencampur, melakukan fermentasi, dan memilah karbohidrat yang tidak diserap, serta memadatkannya menjadi tinja. Fungsi ini dilaksanakan dengan berbagai mekanisme gerakan yang sangat kompleks. Pada keadaan normal kolon harus dikosongkan sekali dalam 24 jam secara teratur. Diduga pergerakan tinja dari bagian proksimal kolon sampai ke daerah rektosigmoid terjadi beberapa kali sehari, lewat gelombang khusus yang mempunyai amplitudo tinggi dan tekanan yang berlangsung lama. Gerakan ini diduga dikontrol oleh pusat yang berada di batang otak, dan telah dilatih sejak anak-anak.
Proses sekresi di saluran cerna mungkin dapat megalami gangguan, yaitu kesulitan atau hambatan pasase bolus di kolon atau rektum, sehingga timbul kesulitan defekasi atau timbul obstipasi. Gangguan pasase bolus dapat diakibatkan oleh suatu penyakit atau dapat karena kelainan psikoneuorosis. Yang termasuk gangguan pasase bolus oleh suatu penyakit yaitu disebabkan oleh mikroorganisme (parasit, bakteri, virus), kelainan organ, misalnya tumor baik jinak maupun ganas, pasca bedah di salah satu bagian saluran cerna (pasca gastrektomi, pasca kolesistektomi).
3.      Tanda dan gejala Obstipasi
a.       Sering menangis
b.      Susah tidur
c.       Gelisah
d.      Perut kembung
e.       Kadang-kadang muntah
f.       Abdomen distensi dan Anoreksia
4.      Penyebab Obstipasi
a.       Penyaluran makanan yang kurang baik, misalnya makanan yang diberikan pada bayi muda kurang mengandung air/gula, sedangkan pada bayi usia lebih tua biasanya karena makanan yang kurang mengandung polisakarida atau serat.
b.      Kemungkinan adanya gangguan pada usus seperti pada penyakit Hirschpung yang berarti usus tidak melakukan gerakan peristaltik.
c.       Sering menahan sembelit karena nyeri pada saat buang air besar.
5.      Pencegahan Obstipasi
a.       Berikan asupan ASI yang lebih banyak dan pastikan bayi tidak mengalami dehidrasi.
b.      Usahakan diet pada ibu dan bayi yang cukup mengandung makanan yang banyak serat seperti buah-buahan dan sayuran.
c.       Perhatikan ekspresi wajah bayi pada saat BAB, jika mukanya merah menandakan bayi sulit mengejan sehingga feses tidak kunjung keluar. Bahkan saat keluar pun terdapat darah yang menyertai karena ada bagian tubuh yang terluka / teriritasi).
6.      Penatalaksanaan
a.       Bila bayi hanya mendapat ASI jangan hentikan pemberian ASI,bila obstipasi krn mendapat susu formula baru berikan susu formula lama;
b.      Bila bayi telah mendapat makanan tambahan berikan makanan serat tinggi dan tambahan konsumsi air;
c.       Bila obstipasi berat rujuk ke dokter anak untuk mendapat obat pencahar.
d.      Bila diduga terdapat penyakit hirschpung dapat dilakukan tes tekanan usus.

C.    Infeksi
1.       Definisi
Sepsis neonatorum adalah infeksi berat dengan gejala sistemik dan terdapat bakteri dalam darah. Merupakan penyebab kematian utama neonatus. Infeksi pada neonatus dapat dibagi menurut berat ringannya dalam dua golongan besar, yaitu berat dan infeksi ringan.
a.       Infeksi berat (major in fections) : sepsis neonatal, meningitis, pneumonia, diare epidemik, plelonefritis, osteitis akut, tetanus neonaturum.
b.      Infeksi ringan (minor infection) : infeksi pada kulit, oftalmia neonaturum, infeksi umbilikus (omfalitis), moniliasis.
2.       Penyebab
a.       Masa antenatal           
Melalui plasenta ibu masuk sirkulasi darah janin (rubela, herpes, hepatitis, toksoplasma, sifilis)
b.      Masa Intranatal
Kuman dari vagina/ servik naik,kuman cairan amnion yang tertelan, saat melewati jalan lahir (Herpes, GO, Sifilis)
c.       Postnatal
Infeksi dari lingkungan misal: penghisap lendir, infus, botol minuman/dot
3.       Tanda Gejal
Letargi, gelisah, gangguan nafas, malas minum, ubun-ubun cekung, BB turun, muntah dan diare, demam, adanya nanah, kemerahan, kejang.
4.       Penatalaksanaan
a.       Lakukan penanganan sesuai gejala misal kejang/hipotermi/gangguan nafas;
b.       Jaga kehangatan bayi;
c.       Jaga kadar gula darah agar tdk turun dengan tetap memberikan ASI;
d.      Rujuk.
5.       Pencegahan Infeksi
Pencegahan infeksi adalah bagian penting setiap komponen perawatan pada bayi baru lahir. Bayi baru lahir lebih rentan terhadap infeksi karena sistem imun mereka imatur, oleh karena itu, akibat kegagalan mengikuti prinsip pencegahan infeksi terutama sangat membahayakan. Praktik pencegahan infeksi yang penting diringkas di bawah ini.
Prinsip Umum Pencegahan Infeksi:
a.       Berikan perawatan rutin kepada bayi baru lahir.
b.      Pertimbangkan setiap orang (termasuk bayi dan staf) berpotensi menularkan infeksi.
c.       Cuci tangan atau gunakan pembersih tangan beralkohol.
d.      Pakai – pakaian pelindung dan sarung tangan.
e.       Gunakan teknik aseptik.
f.       Pegang instrumen tajam dengan hati – hati dan bersihkan dan jika perlu sterilkan atau desinfeksi instrumen dan peralatan.
g.      Bersihkan unit perawatan khusus bayi baru lahir secara rutin dan buang sampah.
h.      Pisahkan bayi yang menderita infeksi untuk mencegah infeksi nosokomial.

D.    Bayi Meninggal Mendadak
1.      Definisi
Adalah kematian bayi secara mendadak, tidak terduga, dengan alasan tidak jelas meskipun dilakukan otopsi. Peristiwa ini menggambarkan sindrom kematian bayi mendadak/SIDS (Sudden Infant Death Syndrom.
Sindrom kematian bayi mendadak (SKBM) didefinisikan sebagai kematian mendadak pada bayi atau pada anak kecil yang tidak terkirakan anamnemis dan tidak terjelaskan dengan pemeriksaan postmoterm menyeluruh, yang meliputi otopsi, penyelidikan terjadinya kematian, dan tinjauan riwayat medis keseluruhan.
SKBM merupakan penyebab utama kematian bayi pascaneonatus di negara maju, umumnya mencapai 40–50% dari kematian bayi antara umur 1 bulan – 1 tahun, di Amerika Serikat angka SKBM adalah 1,3 /1000 kelahiran hidup paling tidak 6000 kematian terjadi setiap tahun. SKBM jarang sebelum umur 1 bulan, insiden puncak adalah 2-4 bulan dan 95% dari semua kasus SKBM terjadi pada umur 6 bulan.


2.      Penyebab SKBM
Berbagai faktor genetik, lingkungan atau sosial telah dikaitkan dengan peningkatan resiko SKBM termasuk kelahiran prematur, terutama dengan riwayat apnea, BBLR, cuaca dingin, ibu muda yang tidak menikah, kondisi sosial ekonomi yang buruk termasuk populasi yang padat, riwayat ibu perokok, anemia, penggunaan narkotika, cacat batang otak, fungsi saluran nafas yang abnormal dan hiperaktif, riwayat SKBM pada saudara sekandung, riwayat ”hampir hilang”, atau episode SKBM yang abortif (misalnya; masa dimana bayi berhenti bernapas, menjadi sianosis atau pucat, serta menjadi tidak responsif, tapi berhasil diresusitasi). Tanda dan gejala:
a.       Bayi mempunyai suara tangisan yang bernada lebih tinggi atau lebih rendah dari normal.
b.      Mengalami takikardi dengan variasi denyut yang lebih dari normal.
c.       Meningkatnya frekuensi pernafasan serta penurunan insiden apnea.
d.      Labilitas yang lebih tinggi dari normal dan stabilitas denyut jantung yang lebih buruk.
3.      Patofisiologi SKBM
Temuan postmortem adalah terkait langsung dengan kelainan perkembangan batang otak dan asfiksia kronis. Perubahan asfiksi adalah akibat kelainan yang mendasar yang menyebabkan gangguan perkembangan batang otak atau akibat disfungsi batang otak. Berdasarkan data postmortem dan kelainan fungsi yang ada pada bayi dengan risiko tinggi untuk SKBM, hipotesis yang paling kuat untuk menjelaskan SKBM adalah kelainan batang otak dalam mengendalikan kardiorespirasi.
Peningkatan risiko SKBM yang terkait dengan banyak faktor obstetri menunjukkan bahwa lingkungan dalam rahim calon korban SKBM adalah suboptimal. Ibu merokok selama kehamilan meningkatkan dua kali risiko SKBM, bayi dari ibu perokok juga tampak meninggal pada umur yang lebih muda. Risiko kematian membesar secara progresif sejalan dengan peningkatan pajanan rokok sehari-hari dan sejalan dengan menjeleknya anemia ibu. Iskemia janin yang disebabkan oleh vasokontriksi diduga merupakan mekanisme dimana merokok pada ibu merupakan predisposisi terjadinya SKBM.
Posisi tidur tengkurap pada bayi adalah faktor risiko bermakana untuk SKBM. Frkuensi SKBM tiga kali lebih besar bila posisi tidur yang terutama adalah tengkurap (di atas perut) daripada bila terlentang (di atas punggung). Program intervensi berdasarkan populasi untuk mengurangi tidur tengkurap telah menghasilkan penurunan yang besar prevalensi tidur tengkurap dan penurunan yang besar angka SKBM sebesar 50 % atau lebih.
4.      Pencegahan SKBM
Untuk mencegah kemungkinan bayi terkena resiko SKBM maka dilakukan pencegahan sebagai berikut:
a.       Orang tua berhenti merokok
b.      Tidak menempatkan bayi tidur dengan posisi telungkup atau wajah menghadap kasur
c.       Memberikan ASI yang cukup pada bayi agar bayi memiliki sistem imun yang kuat
d.      Menidurkan bayi pada permukaan yang agak keras
e.       Menghindarkan bayi dari suhu yang terlalu panas saat tidur
5.      Peran Orangtua
a.       Harap waspada jika anak sedang berada dalam ayunan atau tempat tidur denganbantal, mainan lunak, dan besar, yang bisa menyebabkan muka bayi tertutup dan mempengaruhi dia bernapas. Jauhkan bayi anda dengan kondisi kepala terbuka. Pastikan suhu ruangan (sekitar 65 derajat Fahrenheit), terutama jika anda membedung bayi.
b.      Orang tua jangan memakaikan baju berlebihan, pakailah pakaian seperlunya saat bayi tidur.
c.       Orang tua sangat diharapkan tidak merokok di sekitar bayinya dan menjauhkan bayi dari orang-orang yang merokok.

6.      Penatalaksanaan
Dengan kemajuan teknologi dan bertambah banyaknya orang tua yang mendapat informasi mengenai SKBM, maka tekanan untuk memantau ventilasi dan denyut jantung semakin meningkat. Terdapat kebutuhan untuk menentukan rentan normal dari denyut jantung, variasi kecepatan denyut jantung, frekuensi dan lama jeda pernapasan, sehingga bayi-bayi yang mungkin mendapat manfaat dengan pemantauan dapat diidentifikasi. Pemantauan denyut jantung (EKG) saat ini lebih maju secara teknis dibandingkan pemantauan ventilasi (pemantauan apnea). Pemantauan apnea tergantung pada gangguan mungkin tidak dapat mendeteksi obstruksi saluran nafas lengkap karena bayi tetap melanjutkan gerakan-gerakan pernapasan. Karena apnea yang serius dapat terabaikan jika hanya melakukan pemantauan gerakan torakoabdominal saja, maka harus disertakan pula pemantauan denyut jantung.
Pada saat ini, sulit untuk memutuskan apakah pemantauan di rumah diperlukan atau diinginkan, atau berapa lama harus dilakukan. Kesanggupan anggota keluarga untuk menangani alat pantau serta melakukan tindakan-tindakan yang tepat terhadap alarm serta alarm palsu merupakan faktor yang kritis dalam mengambil keputusan. Untuk saat ini, kami yakin bahwa program pemantauan di rumah seharusnya tidak terlepas dari riset yang mengevaluasi program tersebut beserta pengaruhnya.
Bahkan seandainya mungkin untuk pencegahan SKBM khususnya pada semua bayi beresiko tinggi, beberapa kasus akan terjadi pada bayi yang tidak dianggap beresiko. Dengan alasan ini dan karena menurut definisi kematian datang dengan cepat dan tanpa peringatan maka perlu diberikan dukungan psikologi dan emosi.
Dalam hal ini, bidan dapat memberikan KIE berupa:
a.       Beritahu ibu cara menyusui yang benar dan aman karena dikhawatirkan ibu menyusui sambil berbaring yang dapat memungkinkan bayi mengalami sesak napas karena tertutup hidungnya.
b.      Beritahu ibu untuk tidak membiarkan bayinya tidur dalam keadaan tengkurap, jika bayi tertidur seperti itu maka ibu seharusnya merubah posisi tidurnya.
c.       Beritahu orang tua untuk berada jauh dari bayi saat merokok.